The next morning, I found a new message on my cell phone. Err… nyerah deh nulis in English haha. gak bakat banget!
Intinya pagi itu ada sms dari nomor tak dikenal “Selamat pagi, apa kabar?”. Berhubung nomor tak dikenal jadilah itu sms hanya dipandangi saja sambil berpikir ini siapaaa lagi pagi-pagi udah sms. But as you all know well, curiosity kills. Selidik punya selidik, ternyata yang punya nomor itu adalah D, this is what he said “ini gue, Dito, emang nomor gue gak ada ya? kan kemaren bukannya udah dikasih.” Sejenak saya berpikir, berarti… damn, salah hapus nomor hehe, kayaknya kualat sama si yang punya nomor (maaf ya Dito-nya Tya).
Posisi pagi itu di kampus adalah duduk di tangga Forkot (hayo ngaku! itu tangga punya kita kan yah!) di depan jurusan sambil menunggu praktikum bersama 4 teman lainnya. Di sela-sela asyiknya memandangi jalan menuju Balhut FMIPA :p, satu sms dikirim lagi oleh D dan sms inilah yang menjadi pembuka jalan bagi hubungan kami sampai sekarang ini (agak dramatis). Begini isi smsnya:
Eh mau nanya dong, gimana sih caranya bikinKavera?
dan ini jawaban saya: wah sori, g kurang tau tuh, kalau mau nanya2 ke dosen g aja langsung.
Sembari mengirim sms itu, dalam hati saya berpikir: emang loe kira gue tukang olah kavera apa?! hehe, seharusnya siih memang saya tahu prosesnya, cuma banyak hal yang diwanti-wanti sama dosen “proses pembuatan Kavera seharusnya dipatenkan” jadi intinya itu rahasia perusahaan dong yah. Baiklah, lanjut!
Kegiatan ber-sms akhirnya berlangsung seharian, dari mulai Kavera sampai ke hal yang tidak penting lainnya. Saya ingat, waktu itu salah satu teman bertanya “loe lg sms-an sama siapa sih? sibuk amat.” dan jawaban saya adalah “kalau ini orang besok sms lagi, berarti dia suka sama gue.” Haha! pe-de beneeer, tapi biarin… I knew it, he was so easy to tell.